Selasa, 25 November 2014

KEDATANGAN ISLAM DI INDONESIA DAN PERADABANNYA



KEDATANGAN ISLAM DI INDONESIA DAN PERADABANNYA
I.                  PENDAHULUAN

II.               RUMUSAN MASALAH
1.      bagaimana islam datang ke Indonesia?
2.      Bagaimana kondisi politik kerajaan Indonesia?
3.      Bagaimana cara proses islamisasi di Indonesia?
4.      Bagaimana peradaban islam di Indonesia?
III.           PEMBAHASAN
A.    ISLAM DI INDIAN DAN CINA
     Berawal dari India dan cina, berkembangnya islam di India banyak menarik perhatian para ahli sejarah kontemporer maupun ahli sejarah masa kini. Tetapi jarang yang menulis tentang dakwah islam di india. Dan di Cina, pada abad ke-6, yang menerangkan tentang perkembangan perdagangan antara Arab dan Cina melalui Caylon, dilanjutkan pada abad ke-7 mulai berkembang dengan adanya perdagangan segitiga antara Cina-Arab-persia, yang disitu kota siraf di teluk persia dijadikan pusat bursa bagi para pedagang cina, pada periode ini bersamaan juga denga dinasti Tang di Cina ( 618-907 M.)[1]
B.     DATANGNYA ISLAM
     Sejak zaman prasejarah, penduduk kepulauan indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas. Sejak awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan indonesia dengan berbagai daerah di daratan asia tenggara. Wilayah barat nusantara dan sekitar malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang, dan menjadi daerah lintasan penting antara cina dan india. Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal dari maluku, dipasarkan di jawa dan sumatra, untuk kemudian dijual pada pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di sumareta dan jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi pedagang asing, seperti Lamuri (aceh), barus dan palembang di sumatra: sunda kelapa dan gresik di jawa.[2]
     Pedagang-pedagang muslim asal arab, persia, dan india juga ada yang sampai ke kepulauan indonesia untuk berdagang sejak abad ke-7 M (abad 1 H), ketika islam pertama kali berkembang di timur tengah malaka. Jauh sebelum ditaklukan portugis ( 1511). Merupakan pusat utama lalu lintas perdagangan dan pelayaran.
     Melalui malaka, hasil hutan dan rempah-rempah dari seluruh pelosok nusantara dibawa ke cina dan india, terutama Gujarat, yang melakukan hubungan dagang langsung drengan malaka pada waktu itu. Dengan demikian malaka menjadi mata rantai pelayaran yang penting. Lebih kebarat lagi dari Gujarat, perjalanan laut melintasi laut arab. Dari sana perjalanan bercabang dua. Jalan pertama disebelah utara menuju teluk oman, melalui selat ormuz, ke teluk persia. Jalan kedua melalui teluk adan dan laut merah.
     Ada indikasi bahwa kapal-kapal cina pun mengikuti jalan tersebut sesudah abad ke-9 M, tetapi tidak lama kemudian kapal-kapal tersebut hanya sampai di pantai barat india. Karena barang-barang yang diperlukan sudah dapat dibeli disini. Kapal-kapal indonesia juga mengambil bagian dalam perjalanan niaga tersebut. Pada zaman sriwijaya pedagang-pedagang nusantara mengunjungi pelabuhan-pelabuhan cina dan pantai timur afrika.
     Menurut J.C. van leur, berdasarkan berbagai cerita perjalanan dapat diperkirakan bahwa sejak 674 M ada koloni-koloni arab di barat laut sumatra, yaitu di barus, daerah penghasil kapur barus terkenal. Dari berita cina bisa diketahui bahwa di masa dinasti Tang ( abad ke 9-10) orang-orang ta-shih sudah ada di Kanton( kan-fu) dan sumatra. Ta-shih adalah sebutan untuk orang-orang arab dan persia, yang ketika itu jelas sudah menjadi muslim. Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional antara negeri-negeri di Asia bagian barat dan timur mungkin disebabkan oleh kegiatan kerajaan islam dibawah bani umayyah dibagian barat dan kerajaan cina zaman dinasti Tang di asia bagian timur serta kerajaan Sriwijaya di asia tenggara. Akan tetapiu menurut Taufik Abdullah, belum ada bukti bahwa pribumi indonesia di tempat-tempat yang disinggahi oleh para pedagang muslim itu beragama islam. Adanya koloni itu, diduga sejauh yang bisa dipertanggung jawabkan, ialah para pedagang arab tersebut hanya berdiam untuk menunggu musim yang baik untuk pelayaran.
     Baru zaman-zaman berikutnya penduduk kepulauan ini masuk islam, tentu bermula dari penduduk pribumi di koloni-koloni penduduk muslim itu. Menjelang abad ke-3 M, masyarakat muslim sudah ada si samudera pasai, perlak dan palembang di sumatra. Dijawa, makam fatimah binti maimun di leran( gresik) yang berangka tahun 475 H (1082 M), dan makam-makam islam di tralaya yang berasal dari abad ke-13 M merupakan bukti perkembangan komunitas islam, termasuk di pusat kekuasaan hindu-jawa ketika itu, majapahit.
     Sampai berdirinya kerajaan-kerajaan islam itu, perkembangan agama islam di indonesia dapat dibagi menjadi tiga fase. :
1.      singgahnya pedagang-pedagang islam di pelabuhan-pelabuhan nusantara. Sumbernya adalah berita luar negeri, terutama cina.
2.      Adanya komunitas-komunitas islam di beberapa daerah kepulauan-kepulauan indonesia. Sumbernya, disamping berita-berita asing, juga makam-makam islam.
3.      Berdirinya kerajaan-kerajaan islam.
C.   Kondisi dan situasi politik kerajaan-kerajaan di indonesia
Cikal bakal kekuasaan telah dirintis pada periode abad 1-5 H / 7-8 M,tetapi semua tenggelam dalam hegemoni maritim sriwijaya yang berpusan di palembang dan kerajaan hindu-jawa seperti singa sari dan majapahit di jawa timur. Pada periode ini para pedagang dan muballig muslim membentuk komunitas-komunitas islam. Mereka memperkenalkan islam dan mengajarkan toleransi fdan persamaan derajat diantara sesama, sementara ajaran hindu-jawa menekankan perbedaan derajat manusia. Ajaran islam ini sangat menarik perhatian penduduk setempat. Karana itu, islam tersebar di kepulauan indonesia terhitung cepat, mesti dengan damai.
Masuknya Islam ke daerah-daerah di indonesia tidak dalam waktu yang bersamaan. Disamping itu, keadaan politik dan sosial budaya daerah-daerah ketika di datangi islam juga berlainan. Pada abad ke-7 sampai ke-10 M. Kerajaan sriwijaya meluaskan kekuasaannya ke daerah semenanjung Malaka sampai Kedah. Hal itu erat hubungannya dengan usaha penguasaan selat Malaka yang merupakan kunci bagi pelayaran dan perdagangan internasional. Datangnya orang-orang muslim ke daerah itu sama sekali belum memperlihatkan dampak-dampak politok, karena mereka datang hanya untuk usaha pelayaran dan perdagangan.
D.   Munculnya pemukiman-pemukiman muslim di kota pesisir
Menjelang abad ke-13 M , di pesisir Aceh sudah ada pemukiman muslim. Persentuhan antara penduduk pribumi dengan pedagang muslim dari Arab, Persia, dan India memang pertama kali terjadi di daerah ini.
Yaitu kerajaan Perlak yang pertama kali menjadi kerajaan islam pertama di nusantara. Berdiri pada abad ke-3 H / abad ke-9M.
Hanya soal perbedaan tahun sedikit, yaitu pada idarul haqq menyebut tahun 225 H. Sedangkan Tazkirah thabakat menyebut tahun 227 H. Tentang berdirinya kerajaan islam di Perlak.[3]
Islam di jawa
Perkembangan islam di pulau jawa bersamaan waktunya dengan melemahnya posisi raja majapahit. Hal ini memberi peluang kepada raja-raja islam pesisir untuk membangun pusat-pusat kekuasaan yang independen. Di bawah pinpinan spiritual sunan kudus, meskipun bukan yang tertua dari wali songo, demak akhirnya berhasil menggantikan majapahit sebagai kraton pusat.
Pengaruh islam masuk ke Indonesia bagian timur, kususnya daerah maluku, tidak dapat dipisahkan dari jalur perdagangan yang terbentang pada pusat lalu lintas pelayaran internasional di Malaka, jawa, dan Maluku. Menurut tradisi setempat, sejak abad ke-14 M, islam datang ke daerah Maluku. Raja ternate yang kedua belas, molomatea (1350-1357 M) bersahabat karib dengan orang arab yang memberinya petunjuk dalam pembuatan kapal-kapal, tetapi agaknya bukan dalam kepercayaan.
Hal ini menunjukkan bahwa di ternate sudah ada msyarakat islam sebelum rajny masuk islam. Demikian juga di Banda, Hitu, Makyan, dan Bacan .
Menurut Tome Pires, orang masuk islam di Maluku kira-kira tahun 1460-1456 M. Hal itu sejalan dengan berita Antonio Galvao, orang-orang islam datang ke Maluku tidak menghadapi kerajaan-kerajaan yang sedang mengalami perpecahan sebagaimana halnya di jawa. Mereka datang dan menyebarkan agama islam melalui perdagangan, dakwah, dan perkawinan.[4]
E.     SALURAN DAN CARA-CARA ISLAMISASI DI INDONESIA
Kedatangan islam dan penyebarannya kepada golongan bangsawan dan rakyat umumnya, dilakukan secara damai. Apabila situasi politik suatu kerajaan mengalami kekacauan dan kelemahan disebabkan perebutran kekuasaan dikalangan keluarga istana, maka islam dijadikan alat politik bagi golingan bangsawan atau pihak-pihak yang menghendaki kekuasaan itu. Mereka berhubungan denga pedagang-pedagang muslim yang posisi ekonominya kuat karana menguasai pelayaran dan perdagangan.
Menurut Uka Tjandrasasmita, saluran-saluran islamisasi yang berkembang ada enam, yaitu:
1.      SALURAN PERDAGANGAN
Pada taraf permulaan, saluran islamisasi adalah perdagangan. Kesibukan lalu lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 M. Membuat pedagang-pedagang muslim ( Arab, Persia dan India) turut ambil bagian da;lam perdagangan dari negeri-negeri bagian barat, tenggara dan timur benua asia. Saluran islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham. Mengutip pendapat Tome Pires berkenaan dengan saluran islamisasi melalui perdagangan ini di pesisir pulau Jawa.
2.      SALURAN PEKAWINAN
Dari segi ekonomi para pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih baik dari kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi, terutama puteri-puteri bangsawan, tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar itu. Sebelum kawin, mereka di islamkan terlebih dahulu. Setelah meteka mempunyai keturunan, lingkungan mereka makin luas. Akhirnya timbul kampung-kampung, daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan muslim.dalam perkembangan berikutnya, ada pula wanita muslim yang di kawini oleh keturuna bangsawan; tentu saja setelah yang terakhir ini masuk islam terlebih dahulu. Jalur perkawinan ini lebih menguntungkan apabila terjadi antara saudagar muslim dengan anak bangsawan, atau anak raja dan anak adipati, karena raja, adipati atau bangsawan itubkemudian turut mempercepat proses islamisasi. Demikianlah yang terjadi antara Raden rahmat atau Sunan Ngampel dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan Puteri Kawunganten, Brawijaya dengan puteri Campa yang menurunkan Raden Patah ( raja pertama demak0 dan lain-lain.
3.      SALURAN TASAWUF
Pengajar-pengajar tasawuf. Atau para sufi, mengajarkan teosofi yang bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Mereka mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Diantara mereka ada juga yang mengawini puteri-puteri bangsawan setempat. Dengan tasawuf “ bentuk” islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai kesamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu.
4.      SALURAN PENDIDIKAN
Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kyai-kyai, dan ulama-ulama. Di pesantren atau pondok itu calon ulama, guru agama dan kyai mrndapat pendidikan agama setelah keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing atau berdakwah ketempat tertentu mengajarkan islam. Misalnya pesantren yang di dirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta Surabaya, dan Sunan Giri di Giri. Keluaran pesantren Giri ini banyak yang diundang  ke Maluku untuk mengajarkan agama islam.
5.      SALURAN KESENIAN
Saluran islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang. Dikatakan, sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukkan, tetapi ia meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimah syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih masih dipetik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, tetapi dalam cerita itu disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan islam. Kesenian-kesenian lain juga dijadikan alat islamisasi, seperti sastra( hikayah, babad dan sebagainya), seni bangunan dan seni ukir.
6.      SALURAN POLITIK
Di Maluku Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat masuk islam setelah Rajanya memeluk islam terlebih dahulu. Pengaruh politik Raja sangat membantu tersebarnya islam di daerah ini. Disamping itu, baik di Sumatra dan di Jawa maupun di Indonesia bagian timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan islam memerangi kerajaan-kerajaan non slam. Kemenangan kerajaan islam secara politis banyak menarik pendududk kerajaan bukan islam itu masuk islam.[5]
F.     PERADABAN ISLAM DI INDONESIA
A.    SEBELUM KEMERDEKAAN
Oleh karena penyebaran islam di indonesia pertama-tama dilakukan oleh para pedagang, pertembuhan komunitas islam bermula di berbagai pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra, Jawa, dan pulau lainnya. Kerajaan-kerajaan islam yang pertama berdiri juga di daerah pesisir. Demikian halnya dengan kerajaan Samudra Pasai, Aceh, Demak, Banten dan Cirebon, Ternate dan Tidore. Dari sana kemudian islam menyebar ke daerah-daerah sekitar. Begitu pula yang terjadi di Sulawesi dan Kalimantan. Menjelang akhir abad ke-17, pengaruh islam sudah hampir mereta di berbagai wilayah penting di Nusantara.
Disamping merupakan pusat-pusat politik dan perdagangan. Ibukota kerajaan juga merupakan tempat berkumpul para ulama dan muballig islam. Ibn batuthah menceritakan, Sultan kerajaan samudra Masai, Sultan al-Malik al-Zahir, dikelilingi oleh ulama dan muballig islam, dan raja sendiri sangat menggemari diskusi mengenai masalah-masalah keagamaan. Raja-raja Aceh mengangkat ulama menjadi penasehat dan pejabat di bidang keagamaan. Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) mengangkat Syekh Syamsuddin al-Samatrani menjadi mufti kerajaan Aceh, sultan Iskandar Tsani ( 1636-1641M) mengangkat Syekh Nuruddin al-Ramiri menjadi mufti merajaan, dan sultanah Saefatutddin mengangkat Syekh Abdur Rauf Singkel.[6]
B.     SESUDAH KEMERDEKAAN
Sejak awal kebangkitan nasional, posisi agama sudah mulai dibicarakan dalam kaitannya dengan politik dan negara. Ada dua pendapat yang di dukunh oleh dua golongan yang bertentangan dengan hal itu. Satu golongan berpendapat, negara Indonesia merdeka hendaknya merupakan sebuah negara “ sekuler”, negara yang dengan jelas memisahkan persoalan agama dan politik, sebagaimana diterapkan di negara turki oleh Mustafa Kamal. Golongan lainnya berpendapat, negara Indonesia merdeka adalah “ negara Islam”. Kedua pendapat itu terlihatt misalnya, sebelum kemerdekaan, dalam polemik antara Soekarno dengan Agus Salim, kemudian dengan M. Natsir di akhir tahin 1930-an dan awal 1940-an; diskusi dan perdebatan di dalam sidang-sidang BPUPKI yang menghasilkan piagam Jakarta. Setelah kemerdekaan, persoalan itu juga terangkat kembali di dalam sidang-sidang konstituante hasil pemilihan umum 1955 M yang berakhir dengan keluarnya dekrit presiden 5 juli 1959, yaitu kembali kepada UUD 1945.
IV.           KESIMPULAN


V.               PENUTUP

Mungkin seklumit pemaparan kami dalam makalah yang kami rangkum kali ini, pastinya banyak kesalahan dan kekeliruan, maka dari itu saran dan pesan kami selalu tunggu guna membenahi kesalahan kami.

VI.           DAFTAR PUSTAKA
muhammad Syamsu As., Haji. Ulama pembawa islam di indonesia dan sekitarnya. –Cet .1.-jakarta: lentera, 1996.
                 Badri Yatim, sejarah peradaban islam, Ed.1. Cet 12-jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2001.


[1] . muhammad Syamsu As., Haji. Ulama pembawa islam di indonesia dan sekitarnya. –Cet .1.-jakarta: lentera, 1996. Hlm: 161 dan 167
[2] . Badri Yatim, sejarah peradaban islam, Ed.1. Cet 12-jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2001. Hlm 191.
[3] . muhammad Syamsu As., Haji. Ulama pembawa islam di indonesia dan sekitarnya. –Cet .1.-jakarta: lentera, 1996. Hlm: 9
[4] [4] . Badri Yatim, sejarah peradaban islam, Ed.1. Cet 12-jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2001. Hlm 199-200
[5] .ibid. hlm: 200-203
[6] ibid. hlm: 299-300

Tidak ada komentar:

Posting Komentar