KEDATANGAN
ISLAM DI INDONESIA DAN PERADABANNYA
I.
PENDAHULUAN
II.
RUMUSAN MASALAH
1.
bagaimana
islam datang ke Indonesia?
2.
Bagaimana
kondisi politik kerajaan Indonesia?
3.
Bagaimana
cara proses islamisasi di Indonesia?
4.
Bagaimana
peradaban islam di Indonesia?
III.
PEMBAHASAN
A.
ISLAM DI INDIAN DAN CINA
Berawal dari India dan cina, berkembangnya
islam di India banyak menarik perhatian para ahli sejarah kontemporer maupun
ahli sejarah masa kini. Tetapi jarang yang menulis tentang dakwah islam di
india. Dan di Cina, pada abad ke-6, yang menerangkan tentang perkembangan
perdagangan antara Arab dan Cina melalui Caylon, dilanjutkan pada abad ke-7
mulai berkembang dengan adanya perdagangan segitiga antara Cina-Arab-persia,
yang disitu kota siraf di teluk persia dijadikan pusat bursa bagi para pedagang
cina, pada periode ini bersamaan juga denga dinasti Tang di Cina ( 618-907 M.)[1]
B.
DATANGNYA ISLAM
Sejak zaman prasejarah, penduduk kepulauan
indonesia dikenal sebagai pelayar-pelayar yang sanggup mengarungi lautan lepas.
Sejak awal masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan
indonesia dengan berbagai daerah di daratan asia tenggara. Wilayah barat
nusantara dan sekitar malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi
titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi
para pedagang, dan menjadi daerah lintasan penting antara cina dan india.
Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal dari maluku, dipasarkan di jawa
dan sumatra, untuk kemudian dijual pada pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan
penting di sumareta dan jawa antara abad ke-1 dan ke-7 M sering disinggahi
pedagang asing, seperti Lamuri (aceh), barus dan palembang di sumatra: sunda
kelapa dan gresik di jawa.[2]
Pedagang-pedagang muslim asal arab, persia,
dan india juga ada yang sampai ke kepulauan indonesia untuk berdagang sejak
abad ke-7 M (abad 1 H), ketika islam pertama kali berkembang di timur tengah
malaka. Jauh sebelum ditaklukan portugis ( 1511). Merupakan pusat utama lalu
lintas perdagangan dan pelayaran.
Melalui malaka, hasil hutan dan
rempah-rempah dari seluruh pelosok nusantara dibawa ke cina dan india, terutama
Gujarat, yang melakukan hubungan dagang langsung drengan malaka pada waktu itu.
Dengan demikian malaka menjadi mata rantai pelayaran yang penting. Lebih
kebarat lagi dari Gujarat, perjalanan laut melintasi laut arab. Dari sana
perjalanan bercabang dua. Jalan pertama disebelah utara menuju teluk oman,
melalui selat ormuz, ke teluk persia. Jalan kedua melalui teluk adan dan laut
merah.
Ada indikasi bahwa kapal-kapal cina pun
mengikuti jalan tersebut sesudah abad ke-9 M, tetapi tidak lama kemudian
kapal-kapal tersebut hanya sampai di pantai barat india. Karena barang-barang
yang diperlukan sudah dapat dibeli disini. Kapal-kapal indonesia juga mengambil
bagian dalam perjalanan niaga tersebut. Pada zaman sriwijaya pedagang-pedagang
nusantara mengunjungi pelabuhan-pelabuhan cina dan pantai timur afrika.
Menurut J.C. van leur, berdasarkan berbagai
cerita perjalanan dapat diperkirakan bahwa sejak 674 M ada koloni-koloni arab
di barat laut sumatra, yaitu di barus, daerah penghasil kapur barus terkenal.
Dari berita cina bisa diketahui bahwa di masa dinasti Tang ( abad ke 9-10)
orang-orang ta-shih sudah ada di Kanton( kan-fu) dan sumatra. Ta-shih adalah
sebutan untuk orang-orang arab dan persia, yang ketika itu jelas sudah menjadi
muslim. Perkembangan pelayaran dan perdagangan yang bersifat internasional
antara negeri-negeri di Asia bagian barat dan timur mungkin disebabkan oleh
kegiatan kerajaan islam dibawah bani umayyah dibagian barat dan kerajaan cina
zaman dinasti Tang di asia bagian timur serta kerajaan Sriwijaya di asia
tenggara. Akan tetapiu menurut Taufik Abdullah, belum ada bukti bahwa pribumi
indonesia di tempat-tempat yang disinggahi oleh para pedagang muslim itu
beragama islam. Adanya koloni itu, diduga sejauh yang bisa dipertanggung
jawabkan, ialah para pedagang arab tersebut hanya berdiam untuk menunggu musim
yang baik untuk pelayaran.
Baru zaman-zaman berikutnya penduduk
kepulauan ini masuk islam, tentu bermula dari penduduk pribumi di koloni-koloni
penduduk muslim itu. Menjelang abad ke-3 M, masyarakat muslim sudah ada si
samudera pasai, perlak dan palembang di sumatra. Dijawa, makam fatimah binti
maimun di leran( gresik) yang berangka tahun 475 H (1082 M), dan makam-makam
islam di tralaya yang berasal dari abad ke-13 M merupakan bukti perkembangan
komunitas islam, termasuk di pusat kekuasaan hindu-jawa ketika itu, majapahit.
Sampai berdirinya kerajaan-kerajaan islam
itu, perkembangan agama islam di indonesia dapat dibagi menjadi tiga fase. :
1.
singgahnya
pedagang-pedagang islam di pelabuhan-pelabuhan nusantara. Sumbernya adalah
berita luar negeri, terutama cina.
2.
Adanya
komunitas-komunitas islam di beberapa daerah kepulauan-kepulauan indonesia.
Sumbernya, disamping berita-berita asing, juga makam-makam islam.
3.
Berdirinya
kerajaan-kerajaan islam.
C.
Kondisi dan situasi politik kerajaan-kerajaan di indonesia
Cikal bakal kekuasaan telah dirintis pada periode abad 1-5 H / 7-8
M,tetapi semua tenggelam dalam hegemoni maritim sriwijaya yang berpusan di
palembang dan kerajaan hindu-jawa seperti singa sari dan majapahit di jawa
timur. Pada periode ini para pedagang dan muballig muslim membentuk
komunitas-komunitas islam. Mereka memperkenalkan islam dan mengajarkan
toleransi fdan persamaan derajat diantara sesama, sementara ajaran hindu-jawa
menekankan perbedaan derajat manusia. Ajaran islam ini sangat menarik perhatian
penduduk setempat. Karana itu, islam tersebar di kepulauan indonesia terhitung
cepat, mesti dengan damai.
Masuknya Islam ke daerah-daerah di indonesia tidak dalam waktu yang
bersamaan. Disamping itu, keadaan politik dan sosial budaya daerah-daerah
ketika di datangi islam juga berlainan. Pada abad ke-7 sampai ke-10 M. Kerajaan
sriwijaya meluaskan kekuasaannya ke daerah semenanjung Malaka sampai Kedah. Hal
itu erat hubungannya dengan usaha penguasaan selat Malaka yang merupakan kunci
bagi pelayaran dan perdagangan internasional. Datangnya orang-orang muslim ke
daerah itu sama sekali belum memperlihatkan dampak-dampak politok, karena
mereka datang hanya untuk usaha pelayaran dan perdagangan.
D.
Munculnya pemukiman-pemukiman muslim di kota pesisir
Menjelang abad ke-13 M , di pesisir Aceh sudah ada pemukiman
muslim. Persentuhan antara penduduk pribumi dengan pedagang muslim dari Arab,
Persia, dan India memang pertama kali terjadi di daerah ini.
Yaitu kerajaan Perlak yang pertama kali menjadi kerajaan islam
pertama di nusantara. Berdiri pada abad ke-3 H / abad ke-9M.
Hanya soal perbedaan tahun sedikit, yaitu pada idarul haqq
menyebut tahun 225 H. Sedangkan Tazkirah thabakat menyebut tahun 227
H. Tentang berdirinya kerajaan islam di Perlak.[3]
Islam di jawa
Perkembangan islam di pulau jawa bersamaan waktunya dengan
melemahnya posisi raja majapahit. Hal ini memberi peluang kepada raja-raja
islam pesisir untuk membangun pusat-pusat kekuasaan yang independen. Di bawah
pinpinan spiritual sunan kudus, meskipun bukan yang tertua dari wali songo,
demak akhirnya berhasil menggantikan majapahit sebagai kraton pusat.
Pengaruh islam masuk ke Indonesia bagian timur, kususnya daerah maluku,
tidak dapat dipisahkan dari jalur perdagangan yang terbentang pada pusat lalu
lintas pelayaran internasional di Malaka, jawa, dan Maluku. Menurut tradisi
setempat, sejak abad ke-14 M, islam datang ke daerah Maluku. Raja ternate yang
kedua belas, molomatea (1350-1357 M) bersahabat karib dengan orang arab yang
memberinya petunjuk dalam pembuatan kapal-kapal, tetapi agaknya bukan dalam
kepercayaan.
Hal ini menunjukkan bahwa di ternate sudah ada msyarakat islam
sebelum rajny masuk islam. Demikian juga di Banda, Hitu, Makyan, dan Bacan .
Menurut Tome Pires, orang masuk islam di Maluku kira-kira tahun
1460-1456 M. Hal itu sejalan dengan berita Antonio Galvao, orang-orang islam
datang ke Maluku tidak menghadapi kerajaan-kerajaan yang sedang mengalami
perpecahan sebagaimana halnya di jawa. Mereka datang dan menyebarkan agama
islam melalui perdagangan, dakwah, dan perkawinan.[4]
E.
SALURAN DAN CARA-CARA ISLAMISASI DI INDONESIA
Kedatangan islam dan penyebarannya kepada golongan bangsawan dan
rakyat umumnya, dilakukan secara damai. Apabila situasi politik suatu kerajaan
mengalami kekacauan dan kelemahan disebabkan perebutran kekuasaan dikalangan
keluarga istana, maka islam dijadikan alat politik bagi golingan bangsawan atau
pihak-pihak yang menghendaki kekuasaan itu. Mereka berhubungan denga
pedagang-pedagang muslim yang posisi ekonominya kuat karana menguasai pelayaran
dan perdagangan.
Menurut Uka Tjandrasasmita, saluran-saluran islamisasi yang
berkembang ada enam, yaitu:
1.
SALURAN
PERDAGANGAN
Pada taraf
permulaan, saluran islamisasi adalah perdagangan. Kesibukan lalu lintas
perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 M. Membuat pedagang-pedagang muslim (
Arab, Persia dan India) turut ambil bagian da;lam perdagangan dari
negeri-negeri bagian barat, tenggara dan timur benua asia. Saluran islamisasi
melalui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan
turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan
saham. Mengutip pendapat Tome Pires berkenaan dengan saluran islamisasi melalui
perdagangan ini di pesisir pulau Jawa.
2.
SALURAN
PEKAWINAN
Dari segi
ekonomi para pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih baik dari
kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi, terutama puteri-puteri
bangsawan, tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar itu. Sebelum kawin,
mereka di islamkan terlebih dahulu. Setelah meteka mempunyai keturunan,
lingkungan mereka makin luas. Akhirnya timbul kampung-kampung, daerah-daerah
dan kerajaan-kerajaan muslim.dalam perkembangan berikutnya, ada pula wanita
muslim yang di kawini oleh keturuna bangsawan; tentu saja setelah yang terakhir
ini masuk islam terlebih dahulu. Jalur perkawinan ini lebih menguntungkan
apabila terjadi antara saudagar muslim dengan anak bangsawan, atau anak raja
dan anak adipati, karena raja, adipati atau bangsawan itubkemudian turut mempercepat
proses islamisasi. Demikianlah yang terjadi antara Raden rahmat atau Sunan
Ngampel dengan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan Puteri Kawunganten, Brawijaya
dengan puteri Campa yang menurunkan Raden Patah ( raja pertama demak0 dan
lain-lain.
3.
SALURAN
TASAWUF
Pengajar-pengajar
tasawuf. Atau para sufi, mengajarkan teosofi yang bercampur dengan ajaran yang
sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Mereka mahir dalam soal-soal
magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Diantara mereka ada juga yang
mengawini puteri-puteri bangsawan setempat. Dengan tasawuf “ bentuk” islam yang
diajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai kesamaan dengan alam pikiran mereka
yang sebelumnya menganut agama Hindu.
4.
SALURAN
PENDIDIKAN
Islamisasi juga
dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan
oleh guru-guru agama, kyai-kyai, dan ulama-ulama. Di pesantren atau pondok itu
calon ulama, guru agama dan kyai mrndapat pendidikan agama setelah keluar dari
pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing atau berdakwah ketempat
tertentu mengajarkan islam. Misalnya pesantren yang di dirikan oleh Raden
Rahmat di Ampel Denta Surabaya, dan Sunan Giri di Giri. Keluaran pesantren Giri
ini banyak yang diundang ke Maluku untuk
mengajarkan agama islam.
5.
SALURAN
KESENIAN
Saluran
islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang.
Dikatakan, sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan
wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukkan, tetapi ia meminta para penonton
untuk mengikutinya mengucapkan kalimah syahadat. Sebagian besar cerita wayang
masih masih dipetik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, tetapi dalam cerita
itu disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan islam. Kesenian-kesenian lain juga
dijadikan alat islamisasi, seperti sastra( hikayah, babad dan sebagainya), seni
bangunan dan seni ukir.
6.
SALURAN
POLITIK
Di Maluku
Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat masuk islam setelah Rajanya memeluk islam
terlebih dahulu. Pengaruh politik Raja sangat membantu tersebarnya islam di
daerah ini. Disamping itu, baik di Sumatra dan di Jawa maupun di Indonesia
bagian timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan islam memerangi
kerajaan-kerajaan non slam. Kemenangan kerajaan islam secara politis banyak
menarik pendududk kerajaan bukan islam itu masuk islam.[5]
F.
PERADABAN ISLAM DI INDONESIA
A.
SEBELUM
KEMERDEKAAN
Oleh karena
penyebaran islam di indonesia pertama-tama dilakukan oleh para pedagang,
pertembuhan komunitas islam bermula di berbagai pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra,
Jawa, dan pulau lainnya. Kerajaan-kerajaan islam yang pertama berdiri juga di
daerah pesisir. Demikian halnya dengan kerajaan Samudra Pasai, Aceh, Demak,
Banten dan Cirebon, Ternate dan Tidore. Dari sana kemudian islam menyebar ke
daerah-daerah sekitar. Begitu pula yang terjadi di Sulawesi dan Kalimantan.
Menjelang akhir abad ke-17, pengaruh islam sudah hampir mereta di berbagai
wilayah penting di Nusantara.
Disamping
merupakan pusat-pusat politik dan perdagangan. Ibukota kerajaan juga merupakan
tempat berkumpul para ulama dan muballig islam. Ibn batuthah menceritakan,
Sultan kerajaan samudra Masai, Sultan al-Malik al-Zahir, dikelilingi oleh ulama
dan muballig islam, dan raja sendiri sangat menggemari diskusi mengenai
masalah-masalah keagamaan. Raja-raja Aceh mengangkat ulama menjadi penasehat
dan pejabat di bidang keagamaan. Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) mengangkat
Syekh Syamsuddin al-Samatrani menjadi mufti kerajaan Aceh, sultan Iskandar
Tsani ( 1636-1641M) mengangkat Syekh Nuruddin al-Ramiri menjadi mufti merajaan,
dan sultanah Saefatutddin mengangkat Syekh Abdur Rauf Singkel.[6]
B.
SESUDAH
KEMERDEKAAN
Sejak awal
kebangkitan nasional, posisi agama sudah mulai dibicarakan dalam kaitannya
dengan politik dan negara. Ada dua pendapat yang di dukunh oleh dua golongan
yang bertentangan dengan hal itu. Satu golongan berpendapat, negara Indonesia
merdeka hendaknya merupakan sebuah negara “ sekuler”, negara yang dengan jelas
memisahkan persoalan agama dan politik, sebagaimana diterapkan di negara turki
oleh Mustafa Kamal. Golongan lainnya berpendapat, negara Indonesia merdeka
adalah “ negara Islam”. Kedua pendapat itu terlihatt misalnya, sebelum
kemerdekaan, dalam polemik antara Soekarno dengan Agus Salim, kemudian dengan
M. Natsir di akhir tahin 1930-an dan awal 1940-an; diskusi dan perdebatan di
dalam sidang-sidang BPUPKI yang menghasilkan piagam Jakarta. Setelah
kemerdekaan, persoalan itu juga terangkat kembali di dalam sidang-sidang
konstituante hasil pemilihan umum 1955 M yang berakhir dengan keluarnya dekrit
presiden 5 juli 1959, yaitu kembali kepada UUD 1945.
IV.
KESIMPULAN
V.
PENUTUP
Mungkin
seklumit pemaparan kami dalam makalah yang kami rangkum kali ini, pastinya
banyak kesalahan dan kekeliruan, maka dari itu saran dan pesan kami selalu
tunggu guna membenahi kesalahan kami.
VI.
DAFTAR PUSTAKA
muhammad
Syamsu As., Haji. Ulama pembawa islam di indonesia dan sekitarnya. –Cet
.1.-jakarta: lentera, 1996.
Badri Yatim, sejarah peradaban
islam, Ed.1. Cet 12-jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 2001.
[1] .
muhammad Syamsu As., Haji. Ulama pembawa islam di indonesia dan sekitarnya.
–Cet .1.-jakarta: lentera, 1996. Hlm: 161 dan 167
[2] . Badri
Yatim, sejarah peradaban islam, Ed.1. Cet 12-jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
2001. Hlm 191.
[3] . muhammad
Syamsu As., Haji. Ulama pembawa islam di indonesia dan sekitarnya. –Cet
.1.-jakarta: lentera, 1996. Hlm: 9
[4] [4]
. Badri Yatim, sejarah peradaban islam, Ed.1. Cet 12-jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
2001. Hlm 199-200
[5] .ibid.
hlm: 200-203
[6] ibid.
hlm: 299-300
Tidak ada komentar:
Posting Komentar